MENULIS ENAK, ENAK DIBACA


DESKRIPSI, NARASI, EKSPOSISI, ARTIKEL, FEATURE


klik di sini --> :
Jika ada kisah pada blog ini, itu adalah kisah nyata dan bukan fiksi semata. Namun, nama-nama tokoh yang ada di dalamnya adalah nama samaran. Sekedar untuk menjaga privasi tokoh-tokoh tersebut.

Jumat, 01 Desember 2017

#1 Gagal Jatuh

#1 Gagal Jatuh


          Cuaca cerah, mendung seolah enggan mengotori langit. Mentari hampir mencapai puncaknya. Awan tipis membungkus lautan selat Sunda. Ya, Selat Sunda, lautan terlihat berkilat-kilat dari bingkai jendela mesin terbang yang berjenis Fokker F.27 dengan nama Garuda. Mata Wakidi tidak berkedip, ia seolah ingin keluar melalui jendela itu. Wakidi memaku di atas kursi pesawat itu. Udara dingin di dalam rongga pesawat menggigit permukaan kulit. Wakidi hari itu baru berumur 8 tahun, tapi sekarang masih cukup jelas hari itu untuk diputar ulang bagai rekaman video. Pengalaman pertama melakukan perjalanan bersama pesawat terbang.

          Ayah Wakidi adalah seorang Pegawai Negeri Dinas Transmigrasi di kota Surabaya. Keluarga Wakidi tinggal di kota kecil, Sidoarjo. Ayah Wakidi awalnya hanyalah seorang pegawai kecil. Ke kantor yang terletak di kota Surabaya bersepeda motor setiap hari. Dengan berjalannya waktu, dan karier Ayah Wakidi yang bagus akhirnya ia ditugaskan menjadi Kakanwil (Kepala Kantor Wilayah) Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja untuk Wilayah Propinsi Bengkulu. Untuk pemindahan tugas itulah, maka keluarga Wakidi melakukan perjalanan yang sangat jauh Sidoarjo - Bengkulu. Perjalanan pertama adalah Sidoarjo - Jakarta via darat. Perjalanan kedua Jakarta - Bengkulu via udara. Saat itu, keluarga Wakidi sudah dalam perjalanan Jakarta - Bengkulu via Garuda Indonesian Airways Fokker 28. Tahun berapakah itu ? Sungguh telah lewat jauh di belakang. 1972.

         Tadi pagi, Wakidi bersama ayah, ibu, dan dua orang kakaknya telah berada di ruang tunggu penumpang Lapangan Terbang (dahulu belum dinamakan Bandar Udara - Bandara) Kemayoran, Jakarta. Ruang tunggu itu membentang sangat luas di bagian sisi area landasan pesawat terbang. Orang-orang lalu lalang, sambil sibuk membawa barang-barang, entah kopor, atau tentengan oleh-oleh, atau apalah tetek bengek bekal perjalanan. Waktu serasa merambat lambat bagi orang yang sedang menunggu. Wakidi sudah tidak sabar untuk menjemput pengalaman pertamanya melakukan perjalanan bersama pesawat terbang. Pekerjaan yang paling tidak ditunggu adalah menunggu. Daripada bosan menunggu, Wakidi membuang-buang pandangan. Matanya menyapu seluruh sisi-sisi dan sudut ruang tunggu.  Barangkali ada yang bisa dia lihat sesuatu yang belum pernah ia lihat. Maklumlah Wakidi adalah anak yang tinggal di kota kecil Sidoarjo. Melihat Lapangan Terbang saja, baru kali ini.


          Sepagi ini, petugas kebersihan lapangan terbang sudah mondar-mandir seperti setrika. Wakidi lamat-lamat memperhatikan petugas itu. Petugas itu membawa suatu alat yang bergagang panjang dengan cabang bagian bawahnya seperti huruf T. Ya, alat pel seperti di rumah-rumah, hanya saja ini lebih besar. Petugas kebersihan itu mendorong alat pel itu dari ujung ke ujung ruang tunggu. Balik lagi, balik lagi, terus semakin mendekati dinding yang menghadap lapangan terbang. Dinding itu, sebenarnya bukanlah dinding dari tembok batu bata yang diplaster adukan semen dan pasir. Akan tetapi, dinding itu adalah jendela-jendela kaca yang menjulur sampai lantai ruang tunggu selebar dinding itu dengan bingkai-bingkai alumunium atau besi yang mengkilap.

         Ketika petugas itu sampai pada bagian area depan pintu yang terbuat dari kaca juga, tongkat pelnya terhalang suatu hamparan 'keset' pembersih alas kaki yang terbuat dari sabut kelapa. Karena tongkat pelnya terhalang 'keset' itu, maka benda itu dia pindahkan ke belakang bagian yang sudah dibersihkan dengan pelnya, di depan salah jendela kaca. Lalu, petugas melanjutkan pekerjaannya ke bagian yang belum dibersihkan.

          Mata Wakidi, Wakidi lepaskan mengikuti gerakan petugas kebersihan itu makin menjauh dari area pintu kaca. Suara lalu-lalang penumpang memenuhi langit-langit ruang tunggu.

          "Duuk !!!" keras sekali suara benturan tersebut terdengar memecah ramainya suara mondar-mandirnya para penumpang.

          Suara itu terdengar dari area dekat pintu kaca. Terdengar jelas oleh orang-orang yang lalu-lalang dan duduk di dekat area pintu kaca itu. Wakidi memalingkan wajahnya ke area itu. Seorang wanita tua paruh baya sedang berdiri sempoyongan memegang dahinya. Wanita itu berdiri di atas hamparan pembersih alas kaki dari sabut kelapa. Tangannya memegang pegangan kopor kecil beroda yang ikut berhenti bersamaan wanita itu terhenti. Hei ! Apa yang telah terjadi ?

           Otak Wakidi bekerja dengan cepat menghubung-hubungkan apa yang telah ia lihat. Wanita tua paruh baya berdiri sempoyongan membawa kopor kecil, dan tangan satu lagi memegang dahinya. Terlihat wajah wanita itu menahan rasa sakit. Tidak berapa lama, wajah itu berubah menjadi merah padam dan senyumnya menyeringai. Wajah malunya tidak dapat disembunyikan.

          Wakidi hampir saja menepuk dahinya, tersadar apa yang telah terjadi. Apa yang telah terjadi wahai para pembaca ? Jelas sudah.
Wanita tua itu mengira dia menuju pintu kaca area tunggu. Dia mengira akan melewati di bawah bingkai pintu itu.
Ketahuilah pintu kaca tersebut telah diterapkan teknologi modern. Jika kita telah menginjak hamparan pembersih alas kaki yang terletak di depan pintu, maka pintu kaca tersebut akan otomatis terbuka sendiri.
Malang bagi wanita tua paruh baya itu, ketika dia menginjak hamparan itu, ternyata pintu kaca tidak terbuka. Apa pasal ? Ya, jelas saja tidak terbuka, karena itu bukan pintu kaca otomatis tersebut. Wanita itu dengan yakinnya meluru dengan bergegas ke jendela kaca yang menjulur sampai lantai. Hamparan pembersih alas kaki yang bernama 'keset' itu terletak di depan jendela kaca itu. Bukankah petugas kebersihan telah memindahkannya !

           Wakidi meyeringai sendiri jika ingat kejadian tadi pagi di ruang tunggu penumpang lapangan terbang. Awan-awan masih meliputi selat Sunda. Mesin terbang ini telah mengangkasa jauh di atas awan-awan. Sambil teringat peristiwa tadi pagi, Wakidi masih terpukau dengan vista pemandangan di balik bingkai jendela pesawat. Sungguh ! Suatu pemandangan yang belum pernah ia saksikan selama hidupnya. Terbang di atas awan-awan bersama siraman cahaya matahari dari atas sana. Lautan Selat Sunda di bawah sana telah tak nampak sama sekali.

          Tiba-tiba suasana khidmat pemandangan angkasa itu terpecahkan oleh suara seseorang yang berdiri di ujung depan lorong sirkulasi antara kursi-kursi penumpang. Seorang pramugari memperagakan bagaimana memakai pelampung penyelamat. Pelampung itu dipakai jika pesawat dalam keadaan darurat, entah mengalami gangguan saat terbang di atas lautan atau memang betul-betul dalam keadaan terburuk akan jatuh menuju permukaan laut. Prosedur peragaan tersebut adalah yang memang harus dilakukan setiap pesawat melakukan penerbangan. Pelampung dapat di ambil pada bagian sisi belakang agak ke bawah setiap kursi penumpang. Pelampung itu dipakai dengan mengalungkannya di leher kita masing-masing. Kemudian, ada bagian seperti sedotan minuman yang ditiup oleh kita sendiri, maka tidak berapa lama mengembanglah pelampung tersebut. Pelampung telah siap mengambangkan badan-badan penumpang di permukaan air laut di sekitar pesawat terbang yang telah jatuh.

          "Ada pertanyaan ?" suara pramugari menggema di rongga ruang kapsul penumpang, mengakhiri penjelasannya.

          Tidak berapa lama, pramugari-pramugari membawa sajian makanan dan minuman kepada para penumpang. Dingin udara di dalam pesawat semakin merasuk ke dalam pori-pori kulit. Wakidi baru tahu sekarang, mengapa dia telah memakai jaket atas perintah orang tuanya. Wakidi tidak mengira udara sampai sedingin ini, padahal pesawat terbang tidak dilengkapi dengan pendingin udara. Wakidi ingat akan berita-berita di televisi tentang perjalanan para pendaki gunung mencapai puncak gunung dalam keadaan memakai jaket-jaket tebal. Begitu dinginnya di atas puncak gunung. Apalagi ini terbang jauh lebih tinggi dari puncak gunung-gunung itu !

         "Mau makan apa ?" tanya ayah Wakidi yang duduk di sisi Wakidi, ketika seorang pramugari telah sampai di hadapan kedua kursi mereka.

           Selera makan Wakidi langsung merasuki lambungnya. Ia menunjuk lembaran setangkup roti tawar dengan isi potongan-potongan daging ayam. Lalu, Wakidi menunjuk dengan telunjuknya kembali pada salah satu minumannya. Tidak berapa lama, Wakidi telah sibuk dengan pisau dan garpu plastik yang melengkapi tangkupan roti tawar itu. Pandangan Wakidi sesekali tidak mau lepas dari vista bingkai jendela yang berbentuk segi empat dengan sudut-sudutnya yang tumpul membulat. Oi, betapa nikmatnya ! Nikmat mana lagi yang hendak engkau dustakan ?

          Hanya dalam hitungan menit berbilang jari tangan tangkupan roti itu telah berpindah dalam proses pelumatan dalam lambung Wakidi. Alhamdulillah.

           Suara deru pesawat yang hampir tidak terdengar kembali membungkus ruangan penumpang. Sesekali terasa goncangan-goncangan kecil akibat menembus awan-awan yang sesekali ada pada ketinggian tertentu. Setelah dewasa nanti Wakidi baru tahu goncangan-goncangan tersebut diakibatkan "turbulence" dan "thermal" di sekitar area awan-awan tersebut. Turbulence adalah putaran angin yang tidak tentu arahnya yang mengakibatkan pesawat kehilangan "airborn" sesaat. Sehingga, pesawat seolah-olah "anjlok" (jatuh) sedikit ke bawah. Sedangkan thermal adalah panas yang timbul di bawah awan yang akan mengakibatkan pesawat agak terangkat sedikit ke atas.

          "Perhatian para penumpang yang kami hormati !" suara seorang pramugari yang berdiri di ujung depan lorong kursi-kursi penumpang kembali memecah lamunan Wakidi. Kali ini, suara pramugari terdengar agak keras walaupun masih terkesan ramah.

          "Kami mohon kepada para penumpang agar memakai pelampung masing-masing yang ada di bagian belakang kursi di depan Anda. Silahkan memakai pelampung sesuai prosedur yang kami peragakan tadi."

           Kemudian, pramugari memeragakan memakai pelampung yang ia sudah bawa dan memerintahkan kami memakai pelampung kami, lalu meniupnya. Kami benar-benar mempraktekkan memakai pelampung kami. Ayah Wakidi memakaikan pelampung yang ada di depannya kepadanya. Begitu pula, Ayah Wakidi memakai pelampungnya.

           Oh, begini ya urusan pelampung ini jika naik pesawat. Harus dipakai juga. Bukankah tadi pertama kali pramugari memeragakan saja. Sekarang, mengapa harus benar-benar dipakai. Pertanyaan-pertanyaan saling susul menyusul dalam benak Wakidi.

          "Jangan lupa memakai sabuk pengaman," sambung pramugari mengingatkan ketika lampu peringatan untuk memakai sabuk pengaman menyala.

           Wajah Ayahnya terlihat mengeras. Wakidi bisa melihat jelas rahang gigi Ayahnya mengatup kencang. Tidak ada senyum lagi disana. Mata Ayahnya tidak fokus lagi. Bola matanya bergerak-gerak. Ayahnya menoleh ke kursi-kursi penumpang di depan dan belakang tempat Ibu dan kakak-kakak Wakidi duduk. Ayahnya juga sibuk memakaikan pelampung pada kakak-kakaknya. Ibu telah memakainya. Ayah mengangguk kepada Ibu, seperti ada yang dipastikan bahwa semua baik-baik saja.
Ada apa ini ? Wakidi merasakan suasana yang ganjil. Suasana dalam pesawat agak rusuh. Apa yang telah terjadi ?

          Akan tetapi, Ayah Wakidi diam saja. Tidak berkata satu katapun. Demikian pula Wakidi ingin bertanya, tetapi mulutnya terkatup rapat. Wakidi adalah anak yang pendiam. Ia jarang sekali bertanya-tanya, apalagi sekedar berkata-kata yang tidak ada keperluannya. Namun, Wakidi adalah anak yang tidak pernah diam pikirannya. Ia merasakan ada kejanggalan suasana, akan tetapi karena ini adalah pengalaman pertama menaiki pesawat terbang, maka terjadilah pertentangan akal yang berkecamuk dalam pikirannya. Apakah memang demikianlah keadaannya jika naik pesawat terbang ? Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang dalam kepalanya, tanpa berani mencari jawabannya. Suasana rusuh sudah padam. Ruang pesawat kembali tenang, tapi Wakidi masih merasakan adanya ketegangan. Bisikan-bisikan para penumpang masih menyebar di langit-langit pesawat. Baiklah, Wakidi ikuti saja apa yang akan terjadi.

          Tiba-tiba mesin terbang itu mengalami goncangan-goncangan yang cukup keras. Getaran-getaran sangat terasa pada kursi yang Wakidi duduki. Wakidi sontak melempar pandangan ke arah jendela pesawat. Ternyata pesawat sedang melewati gumpalan-gumpalan awan. Dari kursi Wakidi sangat terasa bahwa pesawat mengalami penurunan ketinggian. Wakidi merasakan bagaikan bermain ayunan yang sedang mengayun turun, tapi terus menerus. Di luar sana yang terlihat hanya putih seperti kapas, ya pesawat sedang menembus awan-awan.

          Tidak berapa lama, terlihatlah permukaan laut berkilat-kilat. Sejauh mata memandang hanya air dan air. Tidak terlihat lagi awan-awan. Pesawat terbang tidak mengalami penurunan lagi. Tapi, goncangan-goncangan keras masih terasa. Bahkan, getaran-getaran semakin dahsyat. Pesawat terbang rupanya terbang rendah di bawah awan-awan. Pesawat terbang menembus 'turbulence' dan 'thermal' yang memang banyak terdapat di bawah awan-awan.

           Wakidi duduk di sisi kanan pesawat. Kilauan pantulan cahaya mentari dari riak-riak air lautan sangat terlihat jelas. Sekarang, telah sampai manakah pesawat terbang ini ?

          Tiba-tiba, horizon permukaan bumi yang berupa hamparan lautan itu menghilang. Di jendela semakin nampak permukaan lautan. Pesawat terbang miring ke kanan sangat tajam. Jendela pesawat seolah-olah menghadap hampir frontal ke arah permukaan laut. Wakidi menahan nafas. Ah, rupanya pesawat ini sedang berbelok tajam ke kanan. Melakukan putaran tiga ratus enam puluh derajat.
Wakidi ingat, pernah membaca di literatur tentang pesawat terbang, bahwa jika pesawat terbang akan mendarat ia melakukan 'manuver' putaran minimal satu kali untuk menurunkan ketinggian. Kesimpulan Wakidi, bahwa pesawat akan mendarat. Tapi dimana ? Ini di atas lautan. Wakidi berusaha mengingat-ingat pelajaran peta Indonesia tentang letak kota Bengkulu. Ya, memang kota Bengkulu terletak di tepi lautan. Jangan-jangan memang sudah akan sampai mendarat di lapangan terbang Padang Kemiling, nama lapangan terbang di Bengkulu. Bisa jadi, pesawat terbang melakukan manuver di atas lautan dekat tepian kota Bengkulu.

          Ayah Wakidi menunjuk-nunjuk ke arah sayap kanan pesawat yang terlihat dari jendela. Wakidi langsung mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk ayahnya. Lihatlah ! Mesin pesawat yang ada di sayap kanan mengeluarkan asap hitam. Ada apa ? Wakidi tidak mengerti, mengapa Ayahnya menunjuk-nunjuk ke mesin pesawat itu.

           Kemudian, Wakidipun mengalihkan pandangan ke wajah ayahnya. Dan,  dengan mimik wajah dan mata, ia bertanya. Ada apa Yah ? Namun, wajah ayahnya yang semula dengan rahang terkatup sontak berubah tersenyum.
Baiklah, semua sepertinya beres-beres saja.

          Tak berapa lama, terlihat tepi pantai. Lalu, daratan dan akhirnya rumah-rumah, gedung-gedung, jalan, mobil yang sibuk lalu-lalang. Ah, rupanya sudah sampai. Pesawat akan mendarat di lapangan terbang. Mereka telah sampai di Bumi Bunga Rafflesia. Satu-satunya daratan Indonesia yang bangsa Inggris pernah menjejakkan kaki dan mencengkeram tangan besinya untuk penjajahan.

          Roda-roda pesawat akhirnya menyentuh landasan lapangan terbang. Wakidi merasakan sedikit ada goncangan ketika roda-roda itu menapak pada aspal landasan pacu.

          Setelah memutar di ujung landasan pacu, pesawat perlahan berjalan menuju area parkirnya. Dan setelah pesawat benar-benar berhenti, lampu peringatan memakai sabuk pengaman padam, maka Ayah Wakidi dengan segera memerintahkan Wakidi untuk melepas sabuk pengaman dan pelampung. Terlihat wajah ayahnya lebih tenang.

          Kemudian rombongan penumpang dipersilahkan turun satu persatu. Wakidipun ikut berdiri, dan berjalan perlahan-lahan menuju pintu pesawat.

          Setelah melewati pintu pesawat, Wakidi merasakan kembali udara alam bebas. Segar.

          Matahari baru saja meluncur turun dari puncaknya. Gemuruh suara mesin pesawat terbang makin pelan. Sambil menuruni tangga pesawat, Wakidi menyesuaikan pandangannya di luar pesawat yang sangat terang oleh cahaya matahari.

          Tapi hei ! Lihatlah di atas gedung lapangan terbang ada tulisan sangat besar, "K E M A Y O R
A N". Wakidi lambat laun berpikir. Lho, ini dimana ? Apakah nama lapangan terbang di kota Bengkulu sama dengan di Jakarta ? Tidak mungkin ! Wakidi sontak menatap ayahnya dengan wajah bertanya-tanya.

          Ayah Wakidi segera menyadari maksud tatapan Wakidi. Ayah Wakidi tersenyum, mengangguk. Ya, nanti, nanti penjelasannya. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk itu.

***

         Beberapa hari kemudian keluarga Wakidi berangkat kembali melakukan perjalanan Kemayoran - Padang Kemiling dengan pesawat terbang yang sehat, tentunya. Perjalanan lancar, tidak kurang sesuatu apapun.

         Sesampainya di lapangan terbang Padang Kemiling, Subhanallah, lihatlah ! Sungguh sangat berbeda suasana lapangan terbang ini. Lapangan terbang Padang Kemiling adalah lapangan terbang perintis. Landasan pacu dan area parkir pesawat hanyalah hamparan rumput hijau. Ya, sangat sesederhana itu. Lingkungan yang melingkupi lapangan terbang hanyalah semak belukar yang luas. Dan, dalam radius sekian kilometer hanyalah hutan dan hutan. Tidak ada rumah-rumah penduduk. Jika ada rumah, mungkin mata harus mencari-carinya karena tersembunyi di bawah-bawah kanopi hutan tropis Sumatra.

          Gedung lapangan terbang, jauh dari bayangan Wakidi yang telah melihat lapangan terbang Kemayoran. Gedung lapangan terbang Padang Kemiling terlihat hanya seperti kantor suatu kelurahan satu lantai. Gedung berdinding tembok batu bata diplaster adukan semen dan pasir, beratap genteng tanah liat, berjendela-jendela kayu, dan berpintu hanya satu akses. Pintu keberangkatan dan pintu kedatangan hanya satu.

          Tidak ada keramaian penumpang yang lalu lalang, yang ada hanya orang-orang yang menjemput para penumpang. Suasana demikianpun hanya sesekali dalam sebulan. Jadwal pesawat terbang yang datang ke daerah yang masih perawan ini hanya beberapa kali dalam sebulan. Ketika Wakidi nanti seusia sekolah tingkat SMP nanti di Bengkulu, bahkan Wakidi pernah bermain 'skate board' papan luncur beroda di area landasan lapangan terbang ini ! Begitu sepinya.

          Ketika Wakidi melewati bingkai pintu kedatangan, ia langsung teringat pada ibu tua paruh baya yang menabrak jendela kaca ruang tunggu lapangan terbang Kemayoran. Seringai Wakidi bersamaan dengan benaknya, jika dicocok-cocokkan begitu mirip kejadian itu dengan gagal terbangnya pesawat Garuda Fokker F.27 yang telah ia naiki.

          Akan tetapi wanita paruh baya itu, setelah menyadari apa yang terjadi, lalu ia berdiri tegak mengokohkan diri. Sambil menahan malu melanjutkan jalannya mencari dan menuju pintu yang asli. Begitu pula, keluarga Wakidi setelah kembali ke Jakarta, bukan tidak mencoba lagi melakukan perjalanan ke Bengkulu via udara, namun beberapa hari kemudian mereka tetap berangkat ke Bengkulu dengan pesawat terbang yang lain. Apapun masalahnya, kegagalan bukan berarti gagal mencoba dan mencoba lagi. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.

          Wakidi pikir telah usai pengalaman yang tak terlupakan itu, sehingga ia dapat bernafas lega untuk dapat melewati hari-hari berikutnya. Tapi, sungguh Wakidi telah keliru. Ternyata ini babak kehidupannya yang baru dimulai. Hari ini, mulailah awal kehidupan Wakidi yang bersejarah. Awal kehidupan yang akan mengubah irama kehidupannya dengan cara yang sangat menakjubkan. Yang, sebelumnya tak terbayangkan Wakidi sama sekali.

***

2 komentar:

  1. Ini fiksi berdasarkan kisah nyata/pengalaman pribadi apa gimana, Pak? Beberapa kali naik pesawat, seringkali bayangan ketakutan akan jatuh dan semacamnya berkelebat di kepala. Tapi kemudian saya tutup dengan doa atau mengalihkan perhatian pada hal lain. Alhamdulillah, sejauh ini selalu lancar naik pesawat. Hanya sekali pernah mengalami turbulensi luar biasa, pesawat naik-turun tidak karuan. Tapi selebihnya menyenangkan :)

    BalasHapus
  2. bukan fiksi, itu nyata. pengalaman tak terlupakan

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

posting terkait

terbanyak dibaca