MENULIS ENAK, ENAK DIBACA


DESKRIPSI, NARASI, EKSPOSISI, ARTIKEL, FEATURE


klik di sini --> :
Jika ada kisah pada blog ini, itu adalah kisah nyata dan bukan fiksi semata. Namun, nama-nama tokoh yang ada di dalamnya adalah nama samaran. Sekedar untuk menjaga privasi tokoh-tokoh tersebut.

Minggu, 26 November 2017

#5 'Kondangan' di hari Jum'at

#5 'Kondangan' di hari Jum'at

          Menjelang tengah hari. Langit komplek perumahan Nusa Indah saat itu cerah sumringah, menyambut hari. Seakan langit tahu, hari itu adalah hari istimewa. Ya, hari Jum'at, hari raya mingguan. Angin semilir membelai-belai pepohonan singkong karet di halaman rumah Humaidi. Suaranya berbisik-bisik kepada dedaunan. Dedaunan mengangguk-angguk bagaikan mengerti bisikan alam itu.


        Humaidi seperti biasanya, 'asik' menyuarakan suara mobil sembari menjalankan mobil-mobilan kayu buatannya sendiri di permukaan tanah halaman rumahnya. Bermain selepas pulang sekolah adalah suatu 'kemerdekaan' bagi dirinya dari tekanan-tekanan pelajaran pada otaknya di sekolah. Halaman rumah Huimaidi luas. Merupakan lapisan selebar enam meter yang mengelilingi rumahnya. Lapisan terluar adalah pagar bambu utuh tegak berbaris setinggi dua meter mengelilingi halaman.

          Pagar setinggi itu, nampaknya sengaja dibuat agar Humaidi tidak 'nggeladrah' main sampai keluar halaman rumah. Ibunya sangat ketat, menjaga dirinya agar tidak terlalu banyak bermain di luar dengan anak kampung.
Masih ada dalam ingatan Humaidi, perkataan ibunya bahwa, anak kampung itu kotor, tidak bersandal, sarungan, dan sering main ke masjid. Sedangkan anak ningrat itu anak baik, resik, 'neces', banyak berada di rumah, dan tidak main ke masjid.

          Suatu ketika, waktu Humaidi baru kelas dua sekolah dasar, ibunya memberi peraturan, "Sekarang tidur dulu !  Boleh main keluar rumah sore, mulai jam setengah tiga ya !"



          Siang itu, mata Humaid sulit terpejam. Selalu terbayang-bayang imajinasi Humaidi menjadi sopir truk mobil-mobilan kayunya. Mulutnya selalu berdengung, bak suara mesin diesel mobil truk betulan. Humaidi menarik mobil itu dengan seutas tali. Truk itu melewati tanjakan gundukan pasir, melewati turunan lobang di tanah yang penuh genangan air hujan terimajinasi dari truk gagah berani mengambil resiko menyebrangi sungai ketika jembatan rusak.

          Ketika truk melewati tanjakan dengungan Humaidi makin keras, "Ngeeeengg!!!! Ngeeeeeeeeeng!!"

          Ketika turunan, "Ciiit, esss aaahh, ciitt eesss.  aaahh...". Betul-betul sulit membedakan dengan bunyi rem angin asli mobil truk betulan.

         Imajinasi dan khayalannya menggelembung. Humaidi gelisah. Dia lihat jam dinding baru jam dua siang. Masih setengah jam lagi. Rumahnya sepi. Suara ibunya tidak terdengar lagi. Pasti sudah lelap. Humaidi sudah tak bisa bertahan lagi. Seakan peraturan ibunya belum pernah dia dengar. Dia menghambur keluar rumah. Mobil-mobilan truk kayu disambarnya.

          "Hayooo !!! kapok enggak !!! boleh main jam setengah tiga, jam dua sudah ngilang!!!", ibunya mengayunkan sapu lidi ke paha Humaidi berkali-kali.

          "Ampun buuu, ampun buuu....," teriak Humaidi lirih menahan pedas pahanya.Air mata Humaidi tak terbendung. Suaranya sesenggukan.

          Pukulan sapu lidi bertubi-tubi membuat tangis Humaidi semakin keras, tersenggal-senggal. Akhirnya dia lari ke sana ke mari, berusaha menyelamatkan dirinya. Ibunya masih gemas mengejarnya. Tangis Humaidi makin menjadi-jadi.

          "Sreek, sreek, sreek ...," suara sandal dipakai setengah diseret.

           Humaidi menghentikan permainan truk kayunya. Dia mengintip di sela-sela pagar bambu. Terlihat bayangan anak sedang berjalan di jalan depan rumahnya. Pandangan Humaidi mengikutinya di antara celah-celah bambu. Ketika sampai di depan gerbang pekarangan rumahnya dan tinggi bambu agak rendah, oh ... rupanya si Ato temannya, tetangga sebelah. Wajah Humaidi menyala, dia bakal bermain tidak sendiri lagi.

           Ato bagaikan kereta api berjalan dengan tetap lajunya melewati depan gerbang halaman rumah Humaidi tanpa mengindahkan temannya yang sedang bermain mobil-mobilan truk kayu.

          "Ato ! endak kemano kau ?" lengking Humaidi dengan logat asli Bengkulu yang kental.

          "Sholat Jum'at!!!" balas Ato lebih melengking lagi, dan semakin ditelan jarak.

           Humaidi tertegun.Ingin meneriaki Ato lagi. Suaranya seperti duri ikan tersangkut di kerongkongan lehernya. Ato semakin jauh. Humaidi menatap Ato yang semakin mengecil. Ia terpaku. Dalam tatapan Humaidi baru menyadari, Ato yang bukan orang Jawa itu memakai sarung, berbaju rapi dan menenteng kopiah yang belum dipakainya. Ada apa ? Mengapa Ato tidak berpakaian main seperti biasanya ? Apakah ada "kondangan"?

         "Sholat Jum'at ?" pertanyaan itu bertubi-tubi dalam otaknya. Kemana gerangan temannya si Ato itu siang-siang begini ? Apakah 'sholat Jum'at' itu sama dengan acara "kondangan" di hari Jum'at ?. Siang hari itu menyisakan pertanyaan yang tak terjawab bagi Humaidi.

          Sayup-sayup terdengar adzan dari masjid di pinggir jalan masuk komplek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

posting terkait

terbanyak dibaca