BELAJAR MENULIS
TULISAN yang ENAK DIBACA


DESKRIPSI
NARASI
EKSPOSISI
ARTIKEL


klik di sini --> :

Rabu, 13 September 2017

Badai Menerpa Lambung


Badai menerpa lambung



          Pagi ini di lingkungan pondok pesantren udara tidak dingin. Hari ini hari Jum'at. Bulan
Agustus dan September adalah bulan perubahan cuaca. Bulan-bulan sebelumnya adalah musim kemarau, udara kering namun dingin menggigit. Sedangkan bulan-bulan sesudahnya musim hujan, udara lembap dan panas berkeringat. Masa-masa perubahan cuaca, menjadikan udara kering tidak, lembap juga tidak namun panasnya mulai terasa menyergap.

          Wakidi masih memelototi monitor komputer sambil menggerak-gerakkan 'mouse'. Pandangan dan konsentrasinya terus pada gambar detail jendela rumah yang sedang dia gambar. Berulang-ulang Wakidi bersendawa. Perutnya mual, karena ada angin berkecamuk di dalam lambungnya. Rupanya ada badai di dalam sana, karena ruang lambung itu memang belum di isi benda padat sejak tadi pagi. Sejak tadi pagi, Wakidi hanya mengisi perutnya dengan rebusan daun 'kersen' dan minuman 'yoghurt kefir' sebagai terapi kesehatan. Lalu, istri Wakidi menghidangkan minuman kopi asli Temanggung dicampur jahe sebagai pemicu pikiran agar lancar bekerja.

           Pukul sembilan. Wakidi masih selalu bersendawa sambil melanjutkan pekerjaan menggambar. Wakidi memang sengaja tidak sarapan dulu, karena menunggu anaknya Wakirun untuk sarapan bersama. Di rumah Wakidi, memang ia tetapkan peraturan bahwa kegiatan makan harus dilakukan bersama-sama. Dalam pandangan Wakidi kegiatan makan bersama itu adalah sangat penting dalam suatu keluarga. Kegiatan makan bersama, bukan hanya makan saja, akan tetapi disitulah kesempatan bagi sesama anggota keluarga saling berbincang-bincang. Banyak hal yang bisa diobrolkan ketika di meja makan. Mereka bisa mengetahui keadaan masing-masing anggota keluarga. Apa yang telah dikerjakan. Apakah ada kesulitan-kesulitan, sehingga bisa saling berbagi bagaimana menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang di hadapi. Lebih dari itu, momen makan bersama dapat dimanfaatkan saling menasehati jika diantara anggota keluarga melakukan kesalahan-kesalahan dalam menjalani kehidupan. Bisa tentang pertemanan, tentang muamalah dengan tetangga, tentang ibadah-ibadah kita, dan tentang-tentang lainnya. Bahkan waktu makan bersamalah mereka bisa melakukan canda untuk mengakrabkan suasana kekeluargaan.




          Pukul setengah sebelas, baru terdengar pintu belakang rumah dibuka. Pasti Wakirun anaknya Wakidi.


          "Assalamu'alaikum", suara Wakirun bersamaan dengan suara berdebam tertutupnya pintu belakang rumah.

          "Wa alaykumussalam", jawab ayahnya sambil masih selalu bersendawa. Kemudian Wakirun turun dari ruang kerjanya yang terletak di loteng (ruang atap) rumah.

           "Ayo kita sarapan", Wakidi mengeraskan suara agar anggota keluarga yang lain mendengar. Maka keluarlah anak Wakidi yang satu lagi dari kamar untuk makan bersama. Sedangkan istri Wakidi juga ikut hadir bersama dalam makan pagi yang sudah terlalu siang itu. Istri Wakidi sudah sarapan sejak tadi pagi. Dia tadi pagi amat lapar. Tetapi, Wakidi memang menganjurkan jika ada anggota keluarga sudah makan harus tetap hadir ketika ada momen makan bersama. Mengapa ? Ya, untuk ikut mendengarkan obrolan dan jika perlu ikut berbincang-bincang memberi masukan-masukan.

          "Wakirun,  kamu mbok mikirin orang lain yang menunggu makan, Abimu sampai masuk angin menunggumu", protes istri Wakidi memulai percakapan dalam makan pagi kesiangan itu.

           Wakirun diam saja sambil menyendok nasi yang sudah tidak hangat dan mengepul lagi dari tempat nasi. Mungkin dia sedang berpikir alasan apa yang tepat untuk keterlambatannya.

          "Lembutkan hati kalian dengan kebaikan-kebaikan. Berbuatlah selalu dengan kejujuran. Hati ini akan sensitif, jika terbiasa dengan kebaikan-kebaikan. Sehingga hati ini lunak, mudah merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Sedangkan jika kita membiarkan kita terbiasa dengan hanya perhatian terhadap kebutuhan-kebutuhan kita, ego kita akan membuat keras hati ini. Apalagi jika kita terbiasa tidak jujur dalam hidup kita, maka kita tidak akan punya hati yang sensitif terhadap kebutuhan-kebutuhan orang lain", akhirnya Wakidi lengkapkan protes istrinya dengan penjelasan Wakidi kepada anak-anaknya.

          "Aku tadi kerja bakti Bi ...", Wakirun membela diri. Suara Wakirun menggantung di langit-langit. Tetapi pembelaannya setengah hati. Sehari yang lalu dia juga terlambat untuk makan siang. Keterlambatannya menyebabkan ibunya masuk angin berat. Sampai malam hari istri Wakidi mual dan tidak bisa tidur. Lengkap sudah Wakirun merasa bersalah.

           "Kamu khan bisa memberi tahu dulu ke rumah ", sergah Wakidi memberi solusi pada anaknya. Wakirun terdiam, masih sibuk dengan makannya.

           Selanjutnya mereka bincang-bincang masalah lain. Tentang kerja baktinya Wakirun, tentang pekerjaan Wakidi, tentang anaknya yang satu lagi, dan tentang ibunya anak-anak masak apa hari ini. Masih banyak sisa daging setelah Idul Adha kemarin.

           Memang aturan makan bersama ini, baru seminggu berjalan. Sehingga jalannya kegiatan tersebut masih tersendat-sendat. Aturan itu Wakidi buat karena, semakin besar anak-anak semakin padat kegiatan mereka. Ada yang belajar, mengajar, memasak, mencuci, berberes rumah, bekerja, dan sebagainya. Dengan padatnya kegiatan, maka terkadang sesama anggota keluarga kurang terjadi interaksi. Sibuk sendiri-sendiri. Kurang akrab. Sehingga momen makan bersamalah kesempatan yang harus dipertahankan tetap diadakan.

          Makan bersama adalah momen penghabisan mereka agar terjaga keharmonisan keluarga. Betapa pentingnya itu, sehingga Wakidi perjuangkan walaupun badai taufan mengamuk di dalam lambungnya.

***

* Nama-nama pada tulisan di atas adalah nama samaran, untuk menjaga privasi masing-masing pribadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

posting terkait

paling banyak dikunjungi minggu ini