MENULIS ENAK, ENAK DIBACA


DESKRIPSI, NARASI, EKSPOSISI, ARTIKEL, FEATURE


klik di sini --> :
Jika ada kisah pada blog ini, itu adalah kisah nyata dan bukan fiksi semata. Namun, nama-nama tokoh yang ada di dalamnya adalah nama samaran. Sekedar untuk menjaga privasi tokoh-tokoh tersebut.

Selasa, 02 Mei 2017

Takut

          Aku duduk di kursi kiri Kijang pick up itu. Sementara Ersi mengemudi di kursi kanan. Jalan aspal yang kami susuri mulai menanjak. Mobil berbentuk kotak-kotak itu mulai meraung-raung, terengah-engah mengambil nafas panjang. Di kanan-kiri kami mulai nampak terbentang pepohonan teh bak karpet hijau yang empuk. Di depan kami agak ke kiri nun jauh di sana berdiri anggun bukit Puncak Pas. Kabut tipis menyelimuti lerengnya. Pohon-pohon cemara bergerombol di beberapa lerengnya, tertiup angin semilir daunnya melambai-lambai bagaikan mengucapkan selamat datang kepada kami. Sungguh indah negeri ini !
          Sejenak kemudian, aku mengarahkan pandangan ke kiri ke arah lembah yang datar dan luas. Aku lihat seperti landasan lapangan terbang kecil beralaskan rumput hijau di tengah-tengah kebun teh. Lapangan itu berbentuk empat persegi sangat panjang.
          Aku jadi ingat sesuatu. Aku tersentak. Ya, itu landasan untuk 'landing' mendaratnya 'layangan'. Ya, kami biasa menyebut layang gantung (hang gliding) dengan 'layangan' saja. Aku baru ingat kembali bahwa hari ini aku akan terbang yang pertama kali dari bukit 60 meter ! Aku pernah mendengar untuk terbang dari Bukit 250 meter, musti melewati tahapan terbang dari Bukit 60 meter berkali-kali. Rupanya, aku telah terlena dengan pemandangan indah. Aku lupa mau apa aku ke sini.
          Tiba-tiba, pepohonan teh bak karpet hijau empuk itu dalam benakku berubah menjadi karpet paku-paku yang tajam. Bukit Puncak Pas berdiri angkuh dan angker. Kabut tipis tampak menyimpan misteri. Pepohonan cemara dedaunannya melambai-lambai mengejekku. Sungguh membuatku takut. Aku gemetar. Ersi instrukturku berwajah pucat dingin siap dengan komandonya. Ketakutanku mulai makin merasuk ke dalam diriku.


          Raungan mobil pick up yang membawa layangan semakin membuat kacau pikiran dan konsentrasiku. Aku teringat kembali ketika berlatih di bukit 15 meter di daerah Lapangan Udara  Halim Perdana Kusumah.
          "Konsentrasi ! Jangan takut ! Hilangkan rasa takut !" komando Ersi kepadaku dengan suara lantang.
          Bagiku, sulit sekali dalam keadaan takut harus konsentrasi dan fokus mengendalikan layangan dengan menukikkan layangan ke arah permukaan tanah landasan bersamaan itu pula aku musti lari dan meloncat dari ketinggian 15 meter. Akan tetapi dengan tekun dan sabar, berbulan-bulan aku terus berlatih sampai diputuskan oleh Ersi untuk bisa terbang di bukit yang lebih tinggi. Bukit 60 meter !
          Tanpa terasa, kami sudah parkir di area parkir Bukit 60 meter. Kami buka ikatan layangan yang terlipat  dari bak tempat barang pick up, dan kami akan angkat ke puncak Bukit 60 meter.Posisi puncak bukit 60 meter itu berada di bawah area parkir yang kami berhenti tadi. Sehingga, kami berdua meng 'gotong'  layangan terlipat dengan berjalan ke bawah.
          Ketakutan masih menghantuiku. Aku berjalan sambil mengangkat layangan dan melihat ke bawah ke puncak Bukit 60 meter. Terlihat pepohonan teh kecil-kecil sekali. Wedew ! Tinggi sekali ! 60 meter itu 4 kali lipat Bukit 15 meter ! Tinggi suatu rumah itu 3 meter, maka Bukit 15 meter seperti setinggi bangunan 3 lantai. Dan, Bukit  60 meter tentu seperti setinggi bangunan 20 lantai ! Bagaimana dengan Bukit 250 meter ? Seperti bangunan setinggi 83 lantai !
          Setelah layangan dibuka, peralatan terbang telah kupakai, dan aku telah terikat di dalam 'harnes' pakaian layang gantung. Aku siap tidak siap, harus meloncat dari tempat 'start' untuk lepas landas. Tampak olehku kebun teh di bawah sana bagaikan siap melahapku. Jantungku makin berdetak kencang. Bukit-bukit dimataku sudah tidak indah lagi. Yang ada sekarang, aku berusaha keras untuk fokus. Fokus, fokus dan fokus. Buang rasa takut, titik. Tapi mengapa aku tidak bisa. Tidak ! Aku bisa !
          Ersi memegang ekor rangka layangan yang terbuat alumunium khusus. Ersi siap memberi komando. Aku dan moncong layangan sudah menghadap lembah landasan 'landing'. Nampak jalan mobil yang tadi kami lewati. Sesekali aku lihat mobil-mobil terlihat kecil-kecil seperti mainan melewati jalan itu. Mobil-mobil itu membisu, suara raungannya sudah tidak terdengar lagi karena nun jauh di bawah sana.Kini, yang terdengar hanyalah deru angin dalam keheninganku. Sementara aku masih tegang berdoa. Aku memantapkan diri dahulu untuk siap meloncat lepas landas.
         "Siap ?" tanya Ersi merasa terlalu lama menunggu.
          "Jaga speed !" Ersi mengingatkan, dan aku faham harus membuat moncong layangan menunduk ke depan dan jangan sampai terangkat ke atas agar layangan mudah dikendalikan.
          "Bismillah," ucapku berbisik sambil menjinjing dan memanggul segitiga kendali layangan yang sudah terbentang dengan bahuku. Aku berjalan ke depan beberapa langkah seolah-olah akan terjun ke bawah ke lereng Bukit 60 meter. Aku kuatkan hati. Dan mulai 'start' lari meluru seakan mau bunuh diri menjatuhkan diri ke arah bawah lereng tepian Bukit 60 meter.
          Melihat gerakanku mulai beranjak lari beserta layangan yang sudah menyatu dengan diriku, Ersi juga mendorong ekor layangan ke depan sekuat-kuatnya.
          "Lari !!, lari !!, lari ...!!" kudengar teriakan Ersi memberi komando dari belakang, walau aku sudah tidak bisa melihatnya dan akupun tidak peduli lagi.
          Aku lari, lari dan lari. Kakiku kulangkah cepat dan makin cepat. Kaki itu semula menapak tanah landasan pacu Bukit 60 meter, lama-kelamaan terangkat melayang seiring dengan 'airborn' nya layangan. Angin yang berlawanan menerpa sayap layangan membuat layangan terangkat dan maju ke depan. Dan, layangan itu mengangkat tubuhku yang telah terbungkus dengan 'harnes' pakaian layang gantung dan tergantung di tengah segitiga kendali. Teriakan Ersi makin tak terdengar, karena aku dan layangan telah meninggalkannya jauh di belakang.
          "Hegh ..!" suara dan nafasku tercekat, terasa tekanan 'harnes' pada dadaku yang sangat dahsyat dan layangan mengangkat diriku. Aku lihat target landasan mendarat. Dan, aku arahkan moncong layangan ke arah itu. Gigiku terkatup kuat karena tegang. Aku terbang tidak lama, mungkin sekitar 5 menit. Di atas aku tidak mendengar apa-apa lagi. Sepi. Deru angin saja yang menemaniku. Aku tak sempat belok-belok, sudah harus siap-siap mendarat.
          Aku tambah "speed" dengan menarik segitiga pengendali ke bawah. Layangan makin menukik ke bawah, baru sadar bahwa layangan kencang sekali ketika merendah dan mendekati landasan 'landing'. Pepohonan teh makin terlihat di kiri-kananku seolah-olah lari menuju belakangku dengan kencang. Kakiku tergantung di udara sudah sekitar 2 meter di atas rerumputan landasan mendarat.
          "Sekarang saatnya," kataku dalam hati. Aku angkat segitiga pengendali ke atas sekuat-kuatnya dengan tiba-tiba. Tiba-tiba layangan terangkat ke atas, mendadak berhenti dan kakiku turun ke bumi, menapak layaknya burung hinggap di dahan pohon.
          Lega rasanya mendarat dengan selamat dan mulus. Gunung Puncak Pas terlihat anggun dan indah kembali, dedaunan teh terhampar luas bagai karpet, kabut yang menyelimuti lereng bukitpun tidak nampak seram lagi, dan pepohonan cemara berayun-ayun seolah-olah menyampaikan selamat atas 'landing'ku yang berhasil.
          "Lebih resiko mana terbang dengan layang gantung, start di landasan pacu untuk lepas landas atau landing ?", aku teringat pertanyaan yang diajukan Edgar instruktur seniorku yang lain. Aku tidak bisa menjawab.
          "Ya lebih resiko 'landing' " Edgar menjawab pertanyaannya sendiri.
          "Kenapa tahu gak ? Karena kalau start lo punya dua pilihan, lo bisa start atau membatalkan start alias gak jadi terbang. Tapi kalau lo mau 'landing' hanya satu pilihan : lo harus landing ! Lo gak bisa terbang ke atas lagi atau balik ke tempat start !" Edgar melanjutkan dengan pertanyaan kembali dan langsung dia jawab sendiri.
          "Ya jelas aja lah, gak bisa terbang ke atas, karena layang gantung tidak bermesin," lanjutku dalam hati.
         Lamunanku terpecah dengan datangnya Ersi ke tempat 'landing'.
          "Selamat ya," Ersi memberi salam jabat tangan erat sekali kepadaku.
          Kemudian seperti biasanya, setelah selesai terbang aku melipat kembali layanganku.
         "Ersi !", aku dengar suara panggilan yang tidak asing lagi bagiku.
          Benar saja, Roy kakaknya Ersi rupanya datang juga menyusul dari Jakarta. Kemudian Ersi menghampiri Roy, dan terlihat keduanya berbincang-bincang dengan serius. Roy ini adalah instrukturku yang paling senior di antara penerbang layang gantung seluruh Jakarta. Roy kakinya pincang karena pernah jatuh menabrak pohon kelapa ketika terbang di waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. Roy kulihat dari jauh seperti menanyakan sesuatu kepada Ersi.
          "Duh, jangan-jangan bertanya tentang kondisi terbangku tadi," aku mulai khawatir.
          Tiba-tiba, Ersi menghampiriku sambil berkata, "Kita ke Bukit 250"
          "Haaah !!!!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

posting terkait

paling banyak dikunjungi minggu ini

www.sketsarumah.com