MENULIS ENAK, ENAK DIBACA


DESKRIPSI, NARASI, EKSPOSISI, ARTIKEL, FEATURE


klik di sini --> :
Jika ada kisah pada blog ini, itu adalah kisah nyata dan bukan fiksi semata. Namun, nama-nama tokoh yang ada di dalamnya adalah nama samaran. Sekedar untuk menjaga privasi tokoh-tokoh tersebut.

Jumat, 12 Mei 2017

Belajar Menulis #6 : [2] Deskripsi (3) Contoh Deskripsi Ekspositori

Sepotong Petang di Pondok Pesantren


          Angka jam pada 'hand phone' ku menunjukkan angka lima. Sang surya sudah sangat condong ke barat, cahayanya sudah mulai redup. Udara dingin mulai merasuk ke dalam kulit tubuh. Bau semerbak daun tembakau sangat menyengat pada musim tanam tembakau di desa Kemiri di kabupaten Temanggung ini.

          Suara teriakan santri-santri bermain bola masih bersahut-sahutan di lapangan 'futsal' pondok pesantren di hadapanku. Lapangan 'futsal' itu hanyalah beralaskan tanah dan beratap langit. Di hadapanku terbentang jaring-jaring penghalang jika ada bola 'nyasar' keluar lapangan. Sehingga bola yang terlempar keluar lapangan tidak sempat menghantam asrama santri yang ada di belakangku. Asrama santri terbuat dari rangka kayu sengon dan bahan GRC semacam triplek tahan air akan tetapi mudah pecah. Terlihat beberapa bagian pecah dan berlobang, Melihat dinding asrama yang pecah dan berlobang itu, baru kutahu mengapa ada jaring-jaring di hadapanku.

          Pada saat ini, para santri kebanyakan sudah bersiap-siap untuk membersihkan diri dengan mandi dan menyelesaikan kebutuhan diri mereka untuk bersiap menghadiri sholat Maghrib berjamaah. Yang tersisa, adalah yang masih semangat untuk bermain. Bahkan, masih ada yang bermain bola basket di 'lapangan basket' di area parkir sebelah utara masjid.Lapangan parkir dilapisi susunan 'paving conblock' menghasilkan permukaan yang tidak rata membuat bola basket kadang terpantul tak terkendali. Walau begitu santri-santri tetap semangat bermain, karena inilah satu-satunya hiburan bagi mereka di sela-sela letihnya belajar agama. Ring basket dibuat sendiri oleh para santri. Bersyukur di antara mereka ada yang trampil menggunakan alat pengelasan besi. Sehingga ring basket terlihat kokoh dan stabil.

          Area kantin dan dagangan jajanan santri terletak kira-kira lima meter sebelah kiriku yang tengah hari tak pernah tutup karena banyaknya santri yang kelaparan dan kekenyangan lalu-lalang disitu. Kini, hanya sesekali santri yang lusuh lewat untuk belanja jajanan sebagai selingan hiburan mereka setelah bermain bola. Senentara itu, pedagang jajanan melayani disela-sela berkemas untuk beranjak pulang dengan wajah 'sumringah' karena uang modal tambah keuntungan sudah kembali terkumpul. Bau 'gorengan tempe mendoan' selebar 'tablet' menyengat hidungku dan memancing liur mulut menetes.

         Suara palu menghantam pahat beton sudah tidak terdengar lagi. Siang hari tadi suara itu terdengar bertalu-talu mengganggu istirahatnya para santri. Tukang bangunan sedang mengerjakan pengembangan pembangunan pondok pesantren di bagian atas area kantin. Pondok pesantren yang baru terbangun dan digunakan para santri adalah bagian lantai bawahnya. Bagian lantai bawah itu dipakai santri untuk ruang tidur dan tempat meletakkan segala perlengkapan para santri. Ruang tersebut, dibagi-bagi berdasarkan area tidur santri. Ketika aku masuk ke dalamnya, ternyata di ruang itu terbagi menjadi dua lantai juga. Lantai dua terbuat dari rangka besi dengan lantai kayu. Di lantai dua itu, ada ventilasi udara sehingga tetap membuat nyaman para santri di antara sempitnya tempat istirahat.

          Ketika aku naik ke lantai atas pondok pesantren yang sedang dibangun terlihat air dari hujan tadi pagi tergenang dimana-mana. Jelas saja, memang lantai atas dibuat bukan untuk atap, sehingga tidak dibuat dengan kemiringan tertentu. Kemiringan tertentu pada atap beton berfungsi untuk mengalirkan air hujan yang menerpa atap tersebut. Seluruh bangunan lantai atas sudah terbangun dinding batu bata dan belum teratapi. Aku susuri bangunan itu sampai ujungnya di barat. Ternyata, di bagian ujung barat bangunan itu ada yang sudah beratap beton. Dari atap beton itu, para santri terkadang melepas pandangan ke arah gunung Suimbing dan gunung Sindoro yang gagah berdiri di Selatan dan Barat area komplek pondok pesantren. Dari atas itu pula, para santri terkadang melatih gerakan gulat dan kungfu yang telah diajarkan instruktur bela diri mereka. Betul-betul pemandangan dan suasana yang indah.

          Di sebelah timur area komplek pondok pesantren itu, berdirilah dengan kokoh masjid dengan nama masjid Umar ibnul Khaththab dengan megahnya. Cocok sekali namanya.  Masjid berukuran duapuluh enam meter kali dua puluh tiga meter itu sangat besar dan luas. Disitulah pusat kegiatan belajar dan mengajar pondok pesantren. Masjid terbangun dari konstruksi atap besi baja dengan dinding batu bata. Atapnya adalah atap gelombang terbuat dari eter yaitu atap seperti atap asbes. Diantara kostruksi baja dan atap gelombang itu, adakalanya banyak bertengger burung-burung dan berkicau memecah keheningan  suasana belajar santri-santri di siang hari.

         Sekarang, suasana menjelang Maghrib mulai merasuk kemana-mana. Cahaya matahari mulai kemerahan di ujung barat, menampakkan siluet gunung Sindoro yang indah. Dan kini, aku sudah berada di dalam masjid. Shaf pertama masjid mulai dipenuhi santri-santri yang sholat sunnah dan membaca kitab suci Al Qur'an. Tidak seperti di masjid-masjid yang berada bukan di pondok pesantren, umumnya masih sepi pada jam-jam menjelang Maghrib. Sebentar lagi masjid akan dipenuhi santri untuk menunaikan sholat Maghrib berjama'ah. Lalu, mereka mengikuti kajian umum yang disampaikan salah satu ustadz pondok pesantren sampai sholat Isya. Dan biasanya setelah sholat Isya, para santri mengulang-ngulang pelajaran dalam kelompok belajar sesuai tingkat masing-masing santri.

          Pukul setengah sepuluh malam nanti,  kegiatan santri belajar dan kegiatan yang lainnya selesai. Mereka menuju peraduannya di asrama untuk melepas lelahnya dari sehari penuh belajar dan bermain. Masjid menjadi sepi dengan dipadamkannya lampu-lampu. Akupun sudah akan di rumah, sementara para pelaku pondok pesantren akan nyenyak terlelap sepanjang malam. Mereka mengumpulkan energi untuk menghadapi belajar mengajar esok hari.

###


Belajar Menulis #5  Kembali klik                               Selanjutnya klik > Belajar Menulis #7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

posting terkait

terbanyak dibaca