BELAJAR MENULIS
TULISAN yang ENAK DIBACA


DESKRIPSI
NARASI
EKSPOSISI
ARTIKEL


klik di sini --> :

Kamis, 27 April 2017

Wakidi, sosok yang sederhana *


         Hari ini hari Minggu. Pagi yang cerah.
         Wakidi sedang mencangkul. Wajahnya berkeringat. Aku menghampirinya.
         "Bersihin saluran ?" tanyaku kepadanya.
         "Iya, ya kalau tidak dirawat saluran akan penuh tanah. Supaya lancar juga sih..., mumpung libur," jawab Wakidi sambil menyeka keringat di wajahnya.
          "Saya mohon maaf tidak bisa ikut bantu, lagi banyak kerjaan," aku menyampaikan 'udzur'ku.
          "O iya gak pa pa kok ...," jawab Wakidi sambil tersenyum.
          Wakidi membersihkan saluran air lingkungan perumahan kami adalah spontanitas keinginannya. Tanpa dibantu siapapun. Tidak ada kerja bakti bersama. Dia mau mengorbankan sedikit waktu liburnya untuk memperhatikan keadaan lingkungannya. Tanpa ada yang memerintah. Inisiatif sendiri.
          Itulah Wakidi, salah satu tetangga kami yang hidup penuh kesederhanaan. Setiap hari dia berangkat kerja di suatu perusahaan perdagangan di tengah kota. Ditengah kesibukan kerjanya, Wakidi masih menyempatkan belajar mengkaji ilmu agama di pondok pesantren dekat lingkungan kami.


          Aku teringat ketika aku berkenalan dengannya. Sosok dengan wajah cerah yang aku lihat selalu hadir di setiap kajian agama, baik kajian umum ataupun kajian khusus bahasa Arab.
Dahulu dia berjualan minuman es untuk mencari nafkah keluarganya.
          Pada kesempatan pertama kali kenal, memang aku tidak banyak 'ngobrol' dengannya. Pertama kenal, terkesan biasa-biasa saja. Ya, memang begitu, terlihat biasa dengan kesederhanaannya. Secara kasat mata, terlihat apa adanya. Tidak ada yang istimewa dari dirinya.
          "Gak semua orang mau semangat kerja bakti, kita lihat saja nanti kelanjutannya," di suatu kesempatan seorang teman melontarkan pengalamannya kepada Wakidi.
          "Ya gak pa pa, yang demikian jangan 'malah' membuat kita tidak semangat. Justru kalau bisa kita memberi contoh, bahkan kita bantu mereka jika dibutuhkan," kata Wakidi, mengomentari argumen temannya itu.
         Subhanallah, pikiran yang sungguh sangat sederhana, tidak neko-neko. Semakin aku mengenal Wakidi, semakin aku tahu bahwa dibalik kesedehanaannya memang tersimpan pikiran yang sederhana pula, tidak 'njelimet'. Dan justru dengan pikiran yang sederhana itu menghasilkan amal yang besar, yang bermanfaat bagi orang banyak. Aku semakin penasaran dengan sosok yang namanya Wakidi.
          Suatu ketika aku lihat putranya sedang main hujan-hujanan, aku heran apakah ayahnya tidak marah. Putranya yaitu yang bernama Wakimin itu, main hujan-hujanan dengan riang gembira. Di wajahnya terlihat tanpa beban sama sekali. Bahkan putranya Wakidi ini, hingga main berenang-renang di saluran air yang agak lebar di samping rumah tetangganya. Lain halnya dengan anak-anak yang lainnya, ketika hujan mereka berdiam diri di dalam rumah mereka.
          "Wakimin kemaren main hujan-hujanan ya ?" ceritaku kepada Wakidi, seakan bertanya mengapa Wakimin dibolehkan main hujan-hujanan.
          " Biarin saja ...." jawab Wakidi tersenyum.
          "Hiburan buat dia, daripada cari hiburan lain perlu ongkos dan biaya," lanjut Wakidi, menjelaskan alasan membolehkan putranya main hujan-hujanan.
          Pikiran yang sangat sederhana sekali, tidak mempersulit diri dengan umumnya orang dengan pola konsumtif di era perdagangan global. Bahkan menyelesaikan banyak permasalahan yang sebetulnya manusia mencari-cari masalah itu sendiri.
          Pagi itu, aku sedang berjalan bersama Wakidi kembali ke rumah dari sholat subuh di masjid. Sesampai di depan rumahku, kami berhenti sejenak dan berbincang-bincang masalah halaman rumahku yang berupa tanah rata yang sebagiannya ditumbuhi rumput-rumput.
         "Pinginnya sebagian diberi batu-batu pondasi yang kecil-kecil sebagai pengerasan, agar mudah dilewati dan parkir kendaraan," usulku sendiri untuk halaman rumahku itu.
          "Iya, bagus itu, 'malah' terlihat alami. Rumah di daerah pinggiran begini ya cocoknya yang alami-alami. Apalagi dengan pemandangan gunung begini. Saya juga heran sama orang-orang pinggiran asli sini, ada halaman sedikit apa-apa 'dicor'. Orang-orang desa pingin hidup seperti orang kota yang sumpek dan panas, padahal orang kotanya ingin hidup seperti di desa dengan suasana alami," Wakidi mencurahkan pendapatnya tanpa segan-segan.
         Subhanallah, Wakidi tidak pernah  belajar dibangku kuliah tentang apa itu "Ekologi" dan apa itu "Eko Arsitektur", ternyata dengan pikirannya yang lugas menghasilkan 'omongan ringan' tapi 'berat dicerna'. Para pakar sudah meneliti 'ngalor ngidul' tentang kerusakan lingkungan, tentang tata kota masa depan, tentang bagaimana menanggulangi banjir. Rupanya solusinya, cukup dengan kesederhanaan berpikir.
          Suatu pagi, aku berkunjung ke rumah Wakidi yang sangat sederhana terbuat dari tiang kayu dan dinding GRC (semacam triplek tahan air). Rumah itu dibangun di atas tanah sewaan, bukan milik Wakidi sendiri.
          "Assalamu'alaykum..." aku melemparkan salam, sambil melihat Wakidi yang ternyata di teras rumahnya sedang membuat sesuatu dengan bahan kayu, alat palu dan paku.
          "Wa alaykumussalam," sambut Wakidi ramah.
          "Lagi buat apa ?"
          "Ini keranjang buat di sepeda motor, ...itu lho rencanaku kemaren,"jawab Wakidi mengingatkanku.
          Memang, Wakidi pernah bercerita akan keluar dari pekerjaannya. Dia ingin berjualan makanan. Selidik punya selidik, kenapa Wakidi mau keluar dari pekerjaannya ?
          Wakidi menjelaskan dengan sangat sederhana, "Gak enak kerja tapi tidak ada kerjaan, orderan dagangan majikanku makin menipis, karena imbas peraturan baru tentang jenis poduk yang di perjualbelikan perusahaan tersebut tidak boleh ditaruh di warung-warung."
          Lagi-lagi dengan kesederhanaan berpikirnya Wakidi, dia niat keluar dari pekerjaan. Tidak enak hanya makan 'gaji buta'. Tidak ada rasa menyesal kehilangan pekerjaan. "Santai bae," kata wong Banyumas.
          Rencana dalam berjualan pun dia punya 'omongan', "Jualan tuh, kayak orang dulu. Misal dia sudah tahu sehari laku 100 dagangan, ya sudah dia bawa 100 tiap hari, enggak kurang enggak lebih. Karena dia tahu segitu sudah cukup untuk hidupnya hari itu. Dia tidak berpikir bagaimana usahanya berkembang, atau buka cabang lagi, tidak. Cukup."
          Aku memuji Allah kembali, ini yang aku pernah pelajari di Eko Arsitektur, bahwa ciri teknologi ramah adalah ekonomi yang bersifat stabil dan kesenangan sebagai motivasi kerja.
Sedangkan, teknologi keras/tidak ramah adalah menginginkan ekonomi bersifat tumbuh berkembang dan mempunyai motivasi kerja adalah upah, sehingga hal ini menghasilkan inovasi besar-besaran dengan tujuan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Tentu hal ini bisa mengakibatkan 'destruktif' (kerusakan) bagi makhluk lainnya.
          Ada benarnya kata orang, "Small is Beautiful". Kecil (sederhana) itu indah. Enggak neko-neko kata wong Jowo.
          "Tapi jangan bilang-bilang siapa-siapa dulu ya...kalau saya mau keluar dari kerjaan", masih kuingat pesan Wakidi sambil tersenyum polos.
* Contoh tulisan bentuk Artikel Profil, Artikel Eksposisi, Artikel Satir
* Wakidi dan Wakimin adalah nama-nama samaran untuk menjaga 'privacy' tokoh-tokoh dalam tulisan. Dialog-dialog yang tertulis adalah kurang lebih begitu yang diingat oleh penulis.

2 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

posting terkait

STUDIO : DESAIN RUMAH