BELAJAR MENULIS
TULISAN yang ENAK DIBACA


DESKRIPSI
NARASI
EKSPOSISI
ARTIKEL


klik di sini --> :

Sabtu, 15 April 2017

Menulis dan enak dibaca : [3] Narasi : (6) Narator

Dalam Narasi tentulah ada yang bercerita, yang menceritakan kepada kita semua apa yang sedang terjadi.
Pada satu ujung, kita melihat ada cerita yang memakai 'aku' atau 'saya' sebagai tokoh utama dalam cerita tersebut. Apa yang kita baca dari cerita itu adalah apa-apa yang dilihat, didengar dan dialami oleh 'aku' itu. Jalan pikiran, pergolakan perasaan, dugaan dan kesimpulan dalam adegan-adegan narasi itupun berasal dari 'aku' itu juga. Yang tidak 'aku' dengar atau lihat, tentulah tidak dapat diceritakan kepada kita. Jadi narator didalam cerita itu adalah pelaku utama dan itu adalah 'aku' itu.

Pada ujung lain, kita dapati ada cerita yang naratornya bukan 'aku', akan tetapi memakai nama seseorang tokoh atau 'aku' tersebut bisa kita ganti dengan nama kita sendiri. Terkadang pula kita ganti 'aku' atau nama seseorang tersebut dengan nama lain dengan tujuan 'menyamarkan' tokoh dalam Narasi. Hal ini bisa terjadi jika cerita tersebut menyangkut atau menjelaskan aib-aib seseorang. Mengapa begitu ? Karena Narasi yang kita ceritakan adalah cerita nyata, terkadang terkait aib-aib seseorang atau aib kita sendiri maka hendaknya kita tutup dengan memberi nama samaran.
Perlu diketahui supaya tidak ada unsur kedustaan, maka di akhir cerita kita beri catatan kaki bahwa nama-nama tokoh dalam cerita disamarkan atas prakarsa penulis untuk melindungi 'privacy' tokoh-tokoh dalam cerita.

Terkadang pula kita jumpai narasi dengan Narator nama seseorang yang bisa mengungkapkan apa saja yang dipikirkan dan dirasakan oleh semua tokoh dalam cerita. Bahkan, lebih dari itu dalam cerita dapat diungkapkan apa saja yang akan direncanakan tokoh-tokoh itu. Hal seperti ini adalah sukar diterima oleh akal. Bagaimana seseorang bisa menceritakan pikiran orang lain serta perasaannya ? Narator seperti ini bisa saja dilakukan, tapi ingat ini adalah kisah nyata sehingga ketika tulisan sudah jadi hendaklah kita menunjukkan tulisan tersebut untuk dibaca oleh masing-masing tokoh dalam cerita. Apakah yang dipikir, dilihat dan dirasa oleh tokoh-tokoh dalam cerita sudah sesuai dengan benar-benar apa-apa yang mereka pikir dan rasa. Dan ini adalah hal yang sulit, kecuali memang kita benar-benar ada waktu dan program khusus untuk membuat Narasi Nyata yang dialami tokoh-tokoh tadi.

Maka untuk mudahnya kita dalam belajar menulis, kita pakai saja posisi narator 'aku' atau 'aku' diganti dengan nama kita atau nama samaran. Karena apa yang dipikir, dilihat dan dirasa Narator adalah benar-benar kita alami sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

posting terkait

STUDIO : DESAIN RUMAH