MENULIS ENAK, ENAK DIBACA


DESKRIPSI, NARASI, EKSPOSISI, ARTIKEL, FEATURE


klik di sini --> :
Jika ada kisah pada blog ini, itu adalah kisah nyata dan bukan fiksi semata. Namun, nama-nama tokoh yang ada di dalamnya adalah nama samaran. Sekedar untuk menjaga privasi tokoh-tokoh tersebut.

Rabu, 26 April 2017

Menulis dan enak dibaca : [3] Narasi : (8) Pola Narasi

Sebuah Narasi dapat tersusun menurut berbagai pola. Yang paling sederhana, dapatlah saya beri  nama Narasi Dasar. Narasi Dasar harus terdiri dari tiga bagian ; Awal, Tengah dan Akhir. Sangatlah sederhana.  Tapi akan dijelaskan masing-masing yang ternyata nanti kita tahu bahwa tidak sesederhana apa yang kita bayangkan.

Awal itu, mustilah seperti umpan sebuah pancing yang lezat, sehingga begitu pembaca membaca hatinya langsung terpaut. Awal itu haruslah memperkenalkan tokoh-tokoh yang memainkan peran dalam narasi, serta memberikan latar belakang yang dibutuhkan untuk kelancaran cerita.
Dan disamping itu semua, awal harus menyiratkan bagaimana kira-kira cerita itu akan berakhir.
Maksudnya bukanlah : begitu pembaca membaca awal itu dia langsung mengetahui bagaimana kelanjutan dan akhir cerita nantinya, tetapi ketika pembaca sudah selesai membaca seluruh kisah tersebut, dia akan berkata dalam hatinya, “Oh ini rupanya yang disiratkan di awal tadi”. Ketika itu barulah terasa bahwa akhir narasi tersebut memang harus begitu, tidak bisa lain walaupun tidak bisa diduga sebelumnya. Akhir yang baik itu selalu harus mengejutkan.

Bagian tengah, dimulai ketika di dalam cerita itu mulai muncul komplikasi, tikaian atau keruwetan yang akhirnya menjurus ke konflik. Semuanya menuju titik krisis konflik yang terakhir dan menentukan yang dinamakan klimaks. Perlu diingat kembali bahwa yang namanya konflik tidak harus konflik fisik semata. Bisa saja konflik bersifat non fisik, misalnya pergi ke kota dan menetap di sana ataukah tinggal di desa saja, atau bisa juga memilih calon istri dari teman ataukah pilihan orang tua, dan lain sebagainya.

Konflik itu biasanya memang diakhiri dengan sebuah ledakan, dan itu klimaks tadi. Ibarat letusan gunung berapi, awalnya adalah tekanan-tekanan uap atau gas di dalam gunung itu mulai meninggi (komplikasi yang menuju konflik). Kemudian ada letusan-letuisan kecil, semburan abu vulkanik, batu, asap dan api (konflik). Dan, akhirnya letusan itu yang maha dahsyat dan bahkan bisa mencampakkan separuh dari puncak gunung tersebut (klimaks).

Sesudah letusan itu, kemudian kembali tenang. Para penduduk kembali ke rumah masing-masing, bantuan kemanusiaanpun berhenti mengalir, dan kehidupan baru segera dimulai.
Begitulah permisalan akhir sebuah Narasi Dasar. Ada  akhir yang berpanjang-panjang dengan menceritakan nasib tokoh-tokoh yang terlibat dalam narasi. Tapi ada pula yang singkat saja. Bahkan, ada Narasi yang akhirnya tidak dituliskan, hanya tersirat, dan pembaca dipersilahkan menduganya sendiri.

Itulah pola Narasi Dasar. Dan, cara inipun masih banyak yang dipakai. Tetapi, ada pula penulis yang mencari dan menciptakan gayanya sendiri. Dari waktu ke waktu banyak bermunculan cara bercerita yang baru. Dan sudah menjadi sifat dasar seorang penulis selalu mencoba gaya baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

posting terkait

terbanyak dibaca