BELAJAR MENULIS
TULISAN yang ENAK DIBACA


DESKRIPSI
NARASI
EKSPOSISI
ARTIKEL


klik di sini --> :

Kamis, 20 September 2012

Daun-daun Tanah Rencong

Kisah ini adalah benar-benar terjadi. Oleh karena sesuatu sebab, mohon maaf nama ‘Budi’ dalam kisah ini bukan nama sebenarnya. Nama sebenarnya kami rahasiakan atas permintaan yang bersangkutan.

       Malam semakin menenggelamkan seluruh isi kampung. Tetapi justru sekarang adalah waktu bagi kami untuk melayang. Jiwa-jiwa kami rasa-rasanya bukan semakin terlelap dalam malam. Bahkan aku merasa seakan-akan melesat dari lautan malam seperti peluru kendali melesat keluar dari sebuah kapal selam, dan terus menembus permukaan air laut menuju udara bebas. Kemudian jiwaku meluncur, melayang-layang ke langit lepas. Seolah-olah tanpa bobot. Berjalan, meluncur, dan salto di angkasa raya. Jiwa-jiwa kami dalam kendali daun-daun terlarang .

       Walau dalam buaian asap ganja masih teringat jelas olehku kejadian tadi sore. Ketika itu kota Depok muram dan sayu. Dalam mendung, kota tanggung itu bagai orang mengantuk  karena angin semilir. Di tengah komplek perumahan yang penghuninya malas keluar itu, kami bertiga mengendarai Toyota hardtop. Aku yang pegang setir, mengemudikan mobil lambat-lambat seperti sedang mencari alamat rumah seseorang.

       “Eh, kiri…, kiri…, parkir di bawah pohon itu,” kata Rudi sambil celingak-celinguk takut kalau ada yang mengikuti.


       “Siapa yang turun?” tanya Faishol lebih tenang daripada Rudi, walaupun tidak bisa menyembunyikan kecemasan.

       “Gue aja sama Budi, ayo, Bud!” ajak Rudi sambil turun dari mobil, tapi sekarang matanya saja yang melihat ke kiri dan kanan.

       Akupun turun dari ruang kemudi ikut melihat ke kiri dan kanan. Tidak banyak omong. Suasana tegang telah menguasaiku. Baru pertama kali aku ikut belanja  . Biasanya aku terima jadi, langsung menikmati hasil belanjaan. Tetapi sekarang, aku akan bertemu muka dengan pengedarnya. Bangga-bangga ngeri. Aku sudah termasuk orang yang dipercaya untuk ikut belanja. Dalam dunia perganjaan aku akan menjadi pemain kelas kakap. Lama-lama bisa juga jadi pengedar. Memang, aku sudah lama ikut bergabung dengan kelompok penikmat daun-daun terlarang.

       “Cepetan!” tegur Rudi sambil berjalan dengan langkah tetap seperti orang JJS  supaya tidak mengundang kecurigaan. Lamunanku buyar. Aku ikuti Rudi di sampingnya sambil mengikuti gaya orang JJS pula.

       Kami berdua masuk ke suatu gang. Lalu belok sana belok sini. Aku tidak bisa menghafal gang-gang tersebut . Walaupun aku terlihat tenang tetapi jiwaku tegang. Konsentrasiku tidak karuan. Pikiranku melayang-layang. Yang penting aku ikuti Rudi terus.

       “Masuk!” tuan rumah mempersilakan dengan ramah. Tiba-tiba tanpa kusadari aku dan Rudi sudah berada di teras rumah penjual daun terlarang tersebut.

       Kami masuk ke ruang tamu. Lalu duduk setelah tuan rumah memberi isyarat supaya kami duduk.

       “Berapa am  ?” tanya tuan rumah.

       “Dua saja,” jawab Rudi sambil melakukan transaksi dengan sangat tergesa-gesa. Dalam waktu sesingkat itu, aku masih sempat untuk mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Sepertinya si tuan rumah sudah berkeluarga. Aku tahu dari perabotan dan suasananya. Gila juga ini orang, memberi makan keluarganya dengan uang maksiat. Mungkin dia terpaksa, tidak ada yang mau menerima menjadi pegawai kantor pemerintah maupun swasta. Apa-apa sekarang uang yang berperan. Mungkin juga anaknya disekolahkan di TPA  masjid lingkungan. Dan istrinya ….

       “Ayo Bud! Kita ditunggu Faishol!” ajak Rudi membuyarkan lamunanku kembali. Kami pamit pada tuan rumah yang memandangku terus dengan penuh curiga. Memang dia baru lihat aku. Mungkin dia berprasangka padaku  bahwa aku intel polisi, atau orang baru yang gampang nyanyi   kalau tertangkap. Tentu yang dikhawatirkan adalah keluarganya, dan bukan dirinya, kalau sampai dia kena garuk  .

       Aku lihat Faishol menunggu di dalam mobilku dengan harap-harap cemas bagaikan perawan menunggu lamaran. Begitu aku berada di ruang kemudi, aku tidak menunggu lama lagi. Langsung aku nyalakan mobil. Pedal gas kutekan dalam-dalam seolah-olah mau take off. Aku membayangkan pesawat Boeing yang meluncur cepat di landasan pacu siap lepas landas ke angkasa. Aku sangat tegang.

       “Oi, jangan ngebut-ngebut dong, malah nanti ada yang curiga, udah kayak mau terbang aja. Jangan khawatir, ntar malem kita juga terbang. Ha ha ha…,” Faishol menenangkan suasana hatiku. Memang Faishol lebih berpengalaman dalam masalah belanja. Aku dengar dia adalah anak Aceh yang kuliah di Ibukota. Hidungnya mancung, rambutnya keriting dan kulitnya coklat tua seperti permen coklat Silver Queen. Kearab-araban. Kata orang Aceh itu singkatan Arab Cina …, aku lupa lanjutannya. Aku ingat depannya saja. Dia sendiri cerita padaku bahwa, dia pernah membawa daun ganja sekian kilo dari Aceh ke Jakarta lewat jalan darat. Daun ganja kalau sudah kilo-kiloan pasti banyak sekali. Anak nekad.

       Aku angkat pedal gas untuk mengurangi laju mobil sehingga mobil dalam kecepatan yang stabil. Seolah-olah kami menembus kabut awan warna-warni.

* * *

       Aku mengerjapkan mataku yang makin tipis karena pengaruh ganja. Dalam keadaan demikian aku masih bisa berfikir betapa beruntungnya aku. Semua telah aku dapatkan. Pergaulan yang luas, teman yang banyak, pengetahuan akan segala hal dari yang paling buruk sampai kepada yang paling canggih. Aku adalah seorang anak muda yang tidak pernah ketinggalan zaman dan selalu mengikuti trend . Aku juga seorang mahasiswa yang lumayan cerdas pada angkatanku. Aku disukai oleh teman-temanku karena aku terkenal bengal tetapi pintar. Aku juga tidak miskin. Aku diberi mobil khusus oleh orang tuaku untuk kegiatan sehari-hari.

       Malam ini aku bahagia sekali, apalagi bersama teman-teman dalam pengaruh daun ganja. Memang paling enak kalau sedang fly , selalu ingin tertawa, perut terasa lapar dan selalu ingin mengangguk-anggukkan kepala. Aku bersama teman-teman tertawa-tawa gembira mendengarkan cerita-cerita lucu. Kami makan nasi goreng dari tukang nasi goreng yang biasa lewat di depan rumah kos kami.

       “Ngék…, ngék…, ngék…,” lantunan musik reggae nya Bob Marley membuat kami mengangguk-anggukkan kepala dan tertawa-tawa.  Sudah lewat tengah malam. Cerita-cerita yang tidak lucu bisa menjadi lucu. Belum tahu lucu apa tidak, kami sudah tertawa. Orang yang makin berat fly nya memang makin lama makin seperti orang gila.

       Aku tidak tahu pukul berapa sekarang. Jangankan menengok ke arah jam yang terletak di atas meja, melirikpun aku malas. Aku lihat teman-temanku sudah terkapar dalam tidurnya karena pengaruh daun terlarang itu. Entah mereka sudah sampai di galaksi mana. Tinggal aku sendiri yang masih terjaga di alam nyata. Pikiranku menerawang entah kemana, aku ikuti arus pikiranku saja.

       Lamat-lamat sepertinya aku mendengar suaraku sendiri, “Eh, Bud lagi ngapain sih?”. Suara itu begitu menghentak sehingga aku terkejut. Suara itu tidak keras tapi menyentakku. Aku merasa suara itu berkata bahwa aku telah melakukan hal yang sia-sia belaka. Suara itu seakan-akan memergoki aku. Suara itu adalah suaraku sendiri yang telah lama kukenal puluhan tahun yang lalu. Sekarang ia berjumpa lagi denganku seperti perjumpaan antara dua sahabat lama.

       “Kamu tanya aku?” aku berbalik bertanya setengah kurang percaya bahwa suara itu tertuju kepadaku.

       “Iya, kepada siapa lagi?” jawab suara itu meyakinkan diriku.

       “Lagi ngegélék  , emang kenapa?” jawabku agak ketakutan.

       “Aku datang menagih janji kepadamu,” suaraku sendiri itu merubah arah pembicaraan. Agaknya inilah maksud dia yang sebenarnya mengapa datang ke sini.

       “Janji apa?” tanyaku terheran-heran. Agaknya aku tidak pernah berjanji apa-apa kepada suara yang seperti suaraku itu. Tetapi aku mencoba mengingat-ingat kembali. Aku hanya ingat bahwa aku pernah bertemu dengan suara itu tadi, entah berapa tahun yang lalu.

       “Bukankah kamu pernah berjanji padaku bahwa, kamu mau berhenti dari semua ini? dan ingin menjadi dirimu yang sebenarnya?” suara itu menegaskan dan mengingatkan kepadaku.

       “Apa benar aku janji seperti itu? Dimana? Kapan?” aku balas bertanya.

       “15 tahun yang lalu, di Bengkulu, komplek Nusa Indah, kilometer tiga setengah, hari Jum’at, jam 12 siang. Ketika itu kamu sedang bermain di halaman rumahmu setelah pulang sekolah. Kamu melihat temanmu yang tinggal di rumah yang bersebelahan dengan rumahmu sedang berjalan memakai sarung. Dia lewat di depan rumahmu.

       Lalu kamu bertanya kepadanya, ‘Eh, endak kemano? ‘

       Diapun menjawab singkat, ‘Sholat Jum’at.’

       Aku ada disana waktu itu, kemudian akupun bertanya kepadamu, ‘Mengapa kamu tidak pergi sholat Jum’at juga? khan kamu orang Islam?’

       ‘Mana aku tahu …,’ jawabmu merasa terpojok.

       ‘Sekarang aku beritahu supaya kamu tahu, bahwa orang Islam harus sholat.’

       ‘Oo… begitu ya, mengapa aku tidak tahu ya?‘ jawabmu lagi makin heran.

       ‘Iya memang kamu tidak tahu, karena kamu dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan keluarga abangan  . Bahkan sebagian saudara-saudara ibu dan ayahmu beragama Kristen. Ada juga yang beragama Kejawen, sehingga wajar kalau kamu sampai umur 9 tahun ini tidak tahu menahu tentang Islam .‘

       ‘Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Kemana tempat aku bertanya tentang agamaku sedangkan sekelilingku abangan semuanya,’ tanyamu seraya meminta nasehat.

       ‘Lakukan apa yang sanggup kamu lakukan.’

       ‘Tidak!’ bantahmu keras.

       ‘Kenapa tidak?’

       ‘Maksudku, aku tidak mau cukup sampai pada apa-apa yang sanggup aku lakukan. Tetapi aku berjanji pada suatu saat nanti, kalau Allah memberi kesempatan dan kekuatan padaku, aku akan mempelajari apa-apa yang harus aku ketahui. Dan itu merupakan keselamatan bagiku pada waktu sebelum dan setelah aku mati.’ Janjimu dengan berapi-api. Masih ingatkah kamu dengan kata hatimu yang dulu kamu telah ikrarkan kepadaku? Apakah kamu sudah lupa dengan itu semua?” suara itu bicara terus tanpa memberi kesempatan kepadaku untuk membantah, bahkan bertanya sekalipun.

       Lambat laun aku mulai ingat kejadian itu. Ingatanku makin lama makin terang. Seperti kabut pagi hari yang mulai menipis berganti dengan terang surya. Kejadian itu bagaikan filem dokumenter yang telah lama disimpan dalam lemari besi pengaman, dan sekarang sedang diputar ulang. Jelas sekali. Kejadian itu memang telah tergores begitu tajam di sanubariku. Sehingga begitu tersingkap, seakan-akan terlihat jelas sekali di depan mata.

       “Eh, kok ngelamun? Bagaimana? Mau bayar janjimu apa tidak?” tagih suara itu menghentikan perjalanan jiwaku ke masa lalu.

       “Eee…, bagaimana ya?”

      “Lho kok bagaimana? Kapan lagi? Aku sudah menunggu terlalu lama,” desak suara itu lagi.

       “Tapi sepertinya aku belum siap. Mengapa kamu datang begitu tiba-tiba? Mengapa kamu tidak memberi tahu kepadaku jauh-jauh hari sebelumnya?” aku berkilah seperti orang berhutang yang menghindar dari wajibnya membayar hutang.

       “Ingatlah bahwa kematian akan datang tiba-tiba pula,” ancam suara itu.

       Tiba-tiba di belakangku ada suara lain “Jangan hiraukan dia Bud!”

       Aku terkejut setengah mati. Aku berpaling ke belakang. Aku tidak melihat siapa-siapa kecuali diriku yang masih terjaga dan teman-temanku yang sudah tidur. Suara itu mirip suaraku juga tetapi mempunyai nada agak kasar.

       “Hai! kamu lagi…, pergi kau dari sini!” suara yang pertama terperanjat mendengar suara yang kasar itu. Dia sepertinya mengenal sekali suara yang kasar itu.

       “Budi jangan dengarkan dia. Kalau kamu ikuti dia kamu mungkin di dunia ini akan hidup enak, tetapi setelah mati kamu akan celaka selama-lamanya. Tapi kalau kamu ikuti aku, walaupun di dunia hidupmu sengsara, tapi nanti di akhirat sudah jelas dan pasti kamu akan enak selama-lamanya. Dan lagi di dunia ini kamu khan belum tahu hidupmu enak atau tidak. Yang pasti pasti aja deh!” lanjut suara yang pertama menebar pengaruh kepadaku seraya menasehatiku.

       “Heh …! apa urusanmu? Budi khan sahabatku selama ini, dia adalah aku dan aku adalah dia. Harusnya kamu yang enyah dari sini!” bantah suara yang kasar dengan kekasarannya yang makin kasar.

       “Budi kita khan sahabat. Apa kamu tega mengkhianati persahabatan yang sudah kita pupuk begitu lama. Kalau kamu terus bersamaku niscaya kamu akan enak terus. Soal kabar-kabar setelah mati belum tentu benar. Kalau mau yang pasti pasti aja, ya… ini lihat saja yang di hadapanmu. Nggak usah jauh-jauh mikirnya, kurang kerjaan!” balas suara yang kasar berusaha mempengaruhi pula.

       “Tidak! sekarang aku tidak mau kalah lagi dengan kamu! Sekaranglah saatnya aku merebut yang dari awal sebenarnya milikku,” kata suaraku yang pertama mulai mengarah dan menantang mengajak perang.

       “Silakan kalau berani!” tantang suaraku yang kasar, dan menyambut aksi suaraku yang pertama.

       “Aku berani…”

       “Kurang ajar…”

       “ …”

       “…”

       Malam semakin larut. Pengaruh ganja semakin menguasaiku. Mataku semakin berat. Kesadaranku kian lenyap.

       “Budi… kembali…kepadaku…,” sayup-sayup kudengar suaraku yang pertama di antara pertikaian dengan suaraku yang kasar.
Setelah itu aku tidak mendengar apa-apa lagi.

* * *

       Pagi yang cerah. Aku baru saja bangun dari tidurku. Aku edarkan pandangan ke seluruh ruangan. Aku lihat teman-temanku sudah bangun pula. Sepertinya ganja tadi malam masih tersisa. Karena temanku ada yang sedang menghisapnya. Ada yang sedang melinting. Ada pula yang sudah fly lagi.

       “Nih, Bud buat kamu,” tawar Rudi yang baru saja menyelesaikan lintingannya kepadaku.

       “Sori…, aku sudah enggak mau lagi.”

* * *


Semoga Bermanfaat.
Terima Kasih, Salam Sukses untuk Anda !

Rachmadi Triatmojo
Pendiri dan Arsitek sketsarumah.com
http://www.sketsarumah.com

Mau tahu Studionya ?
Silahkan klik http://www.sketsarumah.com/p/studio.html

Atau mau tahu langsung hasil-hasil karyanya ?
Silahkan klik http://www.sketsarumah.com/p/karya.html

2 komentar:

  1. sorry, aku udah ngga mau lagi...
    kalimat penuh konsekwensi...

    BalasHapus
  2. jazaakallahu khoiron telah meluangkan waktu membaca ...

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

posting terkait

STUDIO : DESAIN RUMAH