MENULIS ENAK, ENAK DIBACA


DESKRIPSI, NARASI, EKSPOSISI, ARTIKEL, FEATURE


klik di sini --> :
Jika ada kisah pada blog ini, itu adalah kisah nyata dan bukan fiksi semata. Namun, nama-nama tokoh yang ada di dalamnya adalah nama samaran. Sekedar untuk menjaga privasi tokoh-tokoh tersebut.

Rabu, 27 Oktober 2010

Lamunan sepenggal waktu menunggu maghrib

          Sebenarnya, posting uneg-uneg saya yang satu ini sudah saya posting di sketsarumah.com. Jadi hanya saya posting ulang saja dengan judul agak mirip. Hmmm...males ya ? He tidak juga kok ! Posting ini lebih tepat kalau diposting di sini, karena membahas di luar arsitektur rumah. Hanya karena waktu itu saya belum punya blog ini sedangkan uneg-uneg sudah mau meletus seperti Gunung Merapi, ya sudah apa boleh buat dari pada meletus di dalam hati akan merusak organ-organ tubuh sekitar hati ya...keluarkan saja. Sedangkan posting aslinya yang ada di sketsarumah.com saya biarkan karena kalau dihapus akan menghilangkan link-link yang ada di search engine.
           Selamat menghidupkan kekayaan hati Anda !

          Bulan Desember, Abad 20.

          Hari ini, hari yang mendebarkan.
      
          Rachmadi sudah merasa "raport" nya akan dibanjiri dengan tinta merah. Nilai-nilai pelajarannya sudah pasti kebanyakan 'jeblog' semua. Rachmadi sekarang berada di kelas dua sebuah Sekolah Menengah Atas Negeri di bilangan Setiabudi, Jakarta.Hari ini adalah hari penerimaan raport semester pertama.
Ruang Multi Fungsi, Ruang Belajar dan 
Ruang Makan di rumah belajar Ibnu Abbas, Depok
Dia teringat kembali masa-masa sekolah ketika semester pertama itu. Hari-harinya dipenuhi dengan ketidakseriusan. 'Ngobrol' di dalam kelas ketika pelajaran berlangsung. 'Ngabur' dari pelajaran yang tidak dia sukai. Main bola pada waktu luang. 'Nongkrong' di kantin. Dan lain-lain. Dan sebagainya. Dia tidak ingat lagi apa saja yang telah dilakukan untuk membuang hal-hal yang serius dalam masa-masa belajar sekolahnya. Terlalu banyak untuk diingat dan terlalu banyak untuk diceritakan yang akan membuatnya malu.
Yang jelas, dari semua itu Rachmadi sampai merasa bahwa dirinya tidak tahu lagi untuk apa dia sekolah !

          "Gila, rapot gue kebakaran ! Hampir semua pelajaran nilainya merah semua !" kata hati Rachmadi ketika raport di tangan bergetar tanda terkejut setengah takut. Dia sudah terbayang, betapa ayah dan ibu akan marah besar. Rachmadi sekarang ternyata telah menjadi 'pemancing'. Iyah ! Pemancing kemarahan.

          "Eeeh, kok kelihatannya lo bingung amat sih ?", tegur Fatah teman akrabnya.

          "Ini lho, lihat raportku !", sahut Rachmadi masih dengan kegundahannya.

          Fatah melihat raport Rachmadi. Tidak ada perubahan mimik wajah sama sekali ketika dia melihat raport Rachmadi. Seolah-olah raport temannya itu wajar-wajar saja.


          "Lo tenang aja, gak usah bingung deh ...,gue kasih tahu caranya agar raport lo bisa disulap jadi biru semua", kata Fatah dengan gaya penasehat yang penuh bijaksana.

          "Ikut les sama guru pelajaran yang nilainya merah, dijamin deh biru semua pada kenaikan kelas nanti...", sambung Fatah dengan wajah penuh keyakinan.

         "Yang sudah-sudah juga begitu kok !" tambahnya lagi.

         "...???", Rachmadi termangu-mangu dia semakin bingung saja.

         Nah, begitulah sekolah. Sekolah telah membuat kita tidak bisa lagi membedakan antara "proses" dan "substansi". Ketika proses pendidikan (baca: sekolah) dan substansi pendidikan dicampuraduk maka timbullah 'nilai-nilai baru'. Nilai-nilai yang menyesatkan kita.Nilai-nilai yang membuat kita bodoh ditengah-tengah "peperangan melawan kebodohan" (baca : pendidikan).
Kita telah diajak untuk memahami bahwa "pengajaran" sama dengan "belajar"."Naik kelas" sama dengan "pendidikan". "Ijazah" atau "raport" sama dengan "kemampuan". Maka dengan demikian kita telah mengalami distorsi dalam memahami makna "pendidikan" itu sendiri. Yang kita fahami bahwa sekolah adalah suatu lembaga yang telah difahami sebagai wujud hakekat pendidikan itu sendiri.
   
         Mengapa sudah sangat demikian biasnya ?

         Untuk mengetahui sebabnya, maka pertama hendaknya kita menelusuri sejarah timbulnya sekolah sebagai bagian dari perkembangan peradaban manusia dimana lembaga sekolah itu lahir. Yang kedua adalah, apa dampak secara kejiwaan dari lembaga sekolah akibat dari nilai-nilai yang tertanam dalam masyarakat berdasarkan perjalanan sejarahnya.

         Kalau kita telusuri dari bahasa aslinya, kata "sekolah" berasal dari bahasa Latin yaitu skhole, scola, scolae atau schola yang berarti "waktu luang" atau "waktu senggang". Hah ! apa hubungannya ? Nah, kita lihat sejarahnya maka akan terlihat hubungan antara makna sekolah dan arti secara bahasa.
Sekolah telah membuat kita tidak bisa lagi membedakan antara "proses" dan "substansi". Ketika proses pendidikan (baca: sekolah) dan substansi pendidikan dicampuraduk maka timbullah 'nilai-nilai baru'. Nilai-nilai yang menyesatkan kita.Nilai-nilai yang membuat kita bodoh ditengah-tengah "peperangan melawan kebodohan" (baca : pendidikan).
Dahulu di Yunani - tempat asal muasal kata "sekolah" - orang mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau seseorang yang pandai dalam hal-hal tertentu untuk menanyakan dan mempelajari hal-hal yang mereka butuh ketahui. Dari sini dapat dimengerti secara istilah 'sekolah" berarti "waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar".
Lama kelamaan, kebiasaan tersebut tidak semata-mata menjadi kebiasaan kaum lelaki dewasa. Kebiasaan tersebut juga diberlakukan bagi anak-anak mereka. Karena desakan perkembangan kehidupan yang kian beragam dan kian menyita waktu, orang tua merasa bahwa mereka tak punya waktu lagi untuk mengajarkan banyak hal kepada anak-anak mereka. Maka mereka mengisi waktu luang anak-anak mereka dengan cara menitipkan atau menyerahkan kepada seseorang yang pandai di suatu tempat tertentu, biasanya adalah orang atau tempat dimana mereka juga dulunya pernah ber-"skhole".
Maka sejak saat itulah telah beralih sebagian dari fungsi pengasuhan ibu sampai usia tertentu menjadi lembaga pengasuhan anak pada waktu senggang di luar rumah sebagai pengganti orang tua.
Lalu, karena makin banyak anak yang diasuh dan dalam jangka waktu yang lebih lama, maka mulailah diperlukan banyak pengasuh yang bersedia meluangkan waktu secara khusus untuk mengasuh anak-anak disuatu tempat yang telah disediakan, dengan pola yang semakin teratur, dengan peraturan yang lebih tertib dan dengan imbalan jasa yang berupa upah dari orang tua anak-anak. Keadaan ini berlangsung sampai sekarang.

    Akhirnya pelembagaan pendidikan yang dinamakan sekolah ini telah menimbulkan ketidakberdayaan kejiwaan. Ketergantungan pada pelayanan lembaga sekolah membuat kita jadi sangsi akan kemampuan kita untuk menyelesaikan urusan kita sendiri. Proses degradasi ini semakin cepat ketika kebutuhan-kebutuhan non-material diubah menjadi permintaan akan barang, ketika pendidikan dilihat sebagai hasil dari jasa atau pelayanan.

***

          Bulan Juni, abad 21.
   
          Sudah tanggal 10, hari yang cerah, secerah hati Rachmadi.

          Hari ini Rachmadi bisa mengambil honor mengajar. Honor hasil jerih payah atas pekerjaannya sebagai dosen tidak tetap pada suatu institusi perguruan tinggi di Jakarta.

          Seratus lima puluh ribu rupiah. Hati Rachmadi yang tadinya cerah, mendadak kelabu seakan datang mendung meliputi hatinya.

         "Kok, gak naik-naik sih ?", tanya Rachmadi dalam hati setengah kesal. "Ah, mudah-mudahan cukup", hatinya kembali menenangkan.

         "Kalau mau naik honormu, kamu harus sekolah lagi untuk mendapatkan gelar S2", kata temannya yang dosen juga di institusi yang sama. Temannya itu memang telah mendapat gelar S2 dengan menyelesaikan kuliah S2 di institusi lain.
Yups, betul...seorang dosen dengan menyandang gelar  S2 maka kepangkatan sebagai staf pengajar akan naik pula. Kepangkatan dalam staf pengajar akan menaikkan honor dengan sendirinya.

         Bagi Rachmadi, untuk sekolah lagi sehingga mendapatkan gelar S2 mungkin tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah baginya adalah untuk diterima di perguruan tinggi setara S2 menuntut adanya persyaratan batas minimal nilai Indeks Prestasi ketika kuliah di tingkat S1.

         "Indeks Prestasiku khan cuma 2,45", kata Rachmadi setengah berbisik seolah-olah berkata kepada dirinya sendiri dalam suasana keputusasaan.

         "Ah, itu sih gampang diatur sama bagian Administrasi Fakultas", kata temannya yang dosen. Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang setiap bulan ketika Rachmadi mengambil honornya yang kalau dengan akal tidak cukup untuk pengganti bensin sekalipun.

           Rachmadi samar-samar melihat ada "benang merah" masalah pendidikan yang terbentang dari masa SMA nya dulu ketika raportnya membara dengan tinta merah dengan masa sekarang sebagai dosen.

          Nah kalau demikian, bagaimana kita bisa mendapatkan ketrampilan-ketrampilan yang mempunyai kecenderungan-kecenderungan bagaimana mudah "belajar" bukan bagaimana mudah "mengajar" ?

         Ternyata kita masih menuju ke arah "sekolah" dalam arti kata secara bahasa !

 ***
Semoga Bermanfaat.
Terima Kasih, Salam Sukses untuk Anda !

Rachmadi Triatmojo
Pengelola rumahjelajah.com
http://www.rumahjelajah.com
jelajah peradaban masyarakat masa depan

NB : Jika anda suka posting artikel ini, silakan share ke teman FACEBOOK Anda. Cukup dengan meng-KLIK link ini ! Terimakasih.
 



Tahukah Anda ?
Imam Syafi’iSemoga Allah merahmatinya – mengatakan dalam syairnya :

“Setiap Ilmu selain Al-Qur’an adalah menyibukkan.
Kecuali Al-Hadits dan Ilmu Fiqih dalam Agama.
Ilmu adalah apa-apa yang ada di dalamnya perkataan ‘hadatsana’.
Dan apa-apa selain itu adalah was-wasnya syeitan-syeitan.”
.
(dari Kitab Diwanul Imam Syafi’i, halaman 117, cetakan Darul Fikr)

Silahkan berkomentar untuk menjalin persahabatan di dunia maya. Komentar Anda adalah kehormatan bagi saya. Marilah menghidupkan kekayaan hati. Peristiwa biasa terkadang adalah sesuatu yang besar, sangat mendasar dan perlu dipersoalkan. 
Terima kasih telah menghentikan kesibukan Anda untuk berkunjung.

2 komentar:

  1. Apalagi dunia pendidikan kita saat ini, anak-anak tidak lagi "menuntut ilmu" sebagaimana mestinya melainkan mengejar angka / nilai yang menjadi tolok ukur seseorang dikatakan "Lulus" atau berhasil tanpa pemaknaan yang dalam tentang ilmu itu sendiri, bahkan guru dan orang tuapun terbawa arus pemikiran, tidak penting apakah si anak telah betul - betul mendapatkan ilmu dari sekolahnya karena toh pada kenyataan akhir pendidikan adalah seberapa cukupkah nilai yang di dapat si anak untuk dinyatakan "lulus /berhasil" dari ujian sebagian (karena yg menjd patokan hanya beberapa materi) pelajaran. Hingga ada beberapa sekolah yang memberlakukan / memberikan pelajaran pada tingkat akhir hanya mata pelajaran tertentu yg menjadi tolok ukur kelulusan tadi. Sungguh miris rasanya melihat degradasi dunia pendidikan kita saat ini. Bahkan untuk ini semua ada biaya - biaya yg tidak sedikit yg hrs dikeluarkan para orang tua murid. Terlebih lagi bila ternyata si anak/murid tidak lulus, selain menderita beban mental krn dianggap "Gagal", juga harus menanggung beban biaya untuk ujian kembali. Apa jadinya negeri ini, bila generasi penerus kita harus dicekoki dengan hal - hal yang begini. Akan tumbuh generasi yang hanya menuntut "nilai" bukan menuntut ilmu.

    BalasHapus
  2. Bismillah,

    Sebetulnya permasalahan pendidikan (terkhusus ilmu dunia) telah menjadi industri massal. Sehingga perlakuannyapun demikian lha wong bisnis... Yang sangat perlu diajarkan adalah ilmu-ilmu ketrampilan, shg hasilnya adalah orang-orang yang siap membuat pekerjaan bukan orang2 "siap pakai" ...kalau siap pakai berarti buruh ya...

    Kita butuh orang2 yang bermental baja, bukan orang2 bermental lembek !

    Dari sini, dapat disimpul kan bahwa pendidikan akhlaq, tauhid adalah lebih mendesak dari pada ilmu-ilmu dunia. Apalagi setelah kita lihat bahwa ilmu2 agama itu ternyata sangatlah banyak. Bagaimana para ulama menghabiskan seluruh waktunya untuk ini.

    Kalau tauhid dan akhlaq terbentuk maka yang lain-lain mudah saja.....Apakah kita tidak berkaca dengan keadaan-keadaan yang sedang bergulir sekarang ?

    Ilmu dunia sebetulnya mudah kok...! Kalau mental baja sudah terbentuk.

    Ber-JOEANG-lah !

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

posting terkait

terbanyak dibaca